Apa Itu Smiling Depression?
Depresi biasanya dikaitkan dengan kesedihan, kelesuan, keputusasaan, bahkan membuat pengidapnya tidak memiliki tenaga untuk keluar dari kamar tidurnya. Smiling depression atau ‘depresi yang tersenyum’ adalah istilah untuk seseorang yang hidup dengan depresi dalam dirinya, sambil tampak sangat bahagia atau puas di luar.
Di balik topeng mereka yang tampak gembira dan bahagia, mereka memiliki perasaan putus asa, tidak berharga, dan tidak mampu melakukan apa-apa. Mereka berjuang dengan depresi dan kegelisahan dalam jangka waktu yang lama. Namun, di saat bersamaan rasa takut akan diskriminasi membuat pikiran mereka kabur, dan secara tak sadar berusaha untuk tampil bahagia di depan orang lain, seolah semuanya baik-baik saja. [1]
Melansir dari Health Line, smiling depression merupakan sebuah kondisi di mana seseorang yang sebenarnya sedang mengalami depresi menampilkan perasaan dan wajah selalu bahagia seolah hidupnya sedang baik-baik saja. Hal ini tentunya membahayakan karena ketika kita melihat seseorang yang hidupnya sedang bahagia dan baik-baik saja, tetapi tiba-tiba saja orang tersebut memutuskan untuk bunuh diri dan melakukan hal merugikan lainnya karena depresi yang disembunyikannya. [2]
Tanda dan Gejala
Berikut ini tanda-tanda individu yang mengalami smiling depression, yaitu diantaranya:[3]
1. Kondisi smiling depression
Orang yang tampak ceria, bisa jadi juga mengalami depresi. Kondisi ini dinamakan smiling depression. Kondisi ini dialami orang-orang yang terlihat bahagia di depan orang lain, tapi di dalam hati, mereka berkutat dengan gejala depresi. Gejalanya bisa berupa gangguan kecemasan, serangan panik, insomnia, dan pada beberapa kasus, bahkan muncul keinginan untuk bunuh diri.
2. Smiling depression bisa picu bunuh diri
Keinginan untuk bunuh diri bisa menjadi ancaman tersendiri bagi orang dengan kondisi ini. Umumnya, orang yang mengalami depresi parah juga dapat berpikir untuk bunuh diri, tapi tidak memiliki cukup tenaga untuk melakukannya. Namun, penderita smiling depression masih memiliki cukup tenaga untuk benar-benar bunuh diri.
Beberapa gejala-gejala yang biasanya terjadi, yaitu :
Gejala depresi memang cukup sulit untuk dideteksi. Tidak menutup kemungkinan, orang yang dari luar terlihat baik-baik saja justru merupakan penderita depresi yang butuh pertolongan.
Untuk bisa mengenalinya, gejala-gejala depresi seperti di bawah ini bisa menjadi:
- Terlihat kesulitan untuk berpikir
- Berbicara dirinya kerap merasa bersalah, tidak berharga, dan tidak memiliki harapan
- Memiliki gangguan tidur
- Terlihat gusar, sedih, marah, cemas, serta pikiran yang kosong.
- Terlihat tidak lagi menikmati hal yang tadinya disukai
- Kehilangan nafsu makan atau nafsu makan berlebih
- Mengalami kenaikan atau penurunan berat badan secara tiba-tiba
- Mengeluhkan tentang rasa nyeri, sakit kepala, kram atau masalah pencernaan yang tidak kunjung membaik, meski telah diobati
- Pernah berbicara mengenai ingin bunuh diri atau tidak lagi ingin berada di dunia ini
Namun, meski mengalami gejala tersebut, pengidap smiling depression justru terlihat sangat normal jika di depan umum. Mereka bahkan cenderung aktif, ceria, optimis, dan memiliki kehidupan sosial sama seperti orang yang normal. Hal ini justru lebih berbahaya dibanding pengidap depresi biasa, yang umumnya lemah dan tidak memiliki energi untuk melakukan aktivitas.
Pengidap smiling depression yang memiliki cukup banyak energi untuk tetap aktif di luar justru memiliki risiko bunuh diri yang lebih tinggi. Ya, orang dengan depresi berat kadang merasa ingin bunuh diri, tetapi banyak yang tidak punya energi untuk bertindak berdasarkan pemikiran ini. Namun, seseorang dengan smiling depression mungkin memiliki energi dan motivasi untuk menindaklanjutinya.
Karena itu, kondisi ini terkadang bisa lebih berbahaya daripada bentuk depresi lainnya. Meski begitu, smiling depression merupakan salah satu kondisi kejiwaan yang paling mungkin untuk diatasi, melalui konsultasi maupun psikoterapi. [1]
Penyebab
Penyebab dari smiling depression ini beragam; bisa jadi karena hubungan dengan pasangan yang gagal, hubungan dengan keluarga yang berantakan, tantangan pekerjaan, dan tujuan hidup yang tak kunjung tercapai.
Seorang yang melakukan smiling depression ini bisa jadi tidak terdeteksi. Mereka yang mengalami smiling depression akan terlihat sebagai seorang yang aktif, kariernya stabil, kehidupan keluarga, dan lingkup pertemanan yang dimiliki juga sehat, ceria, optimis dan ‘terlihat’ bahwa mereka bahagia.
Dilansir dari Health Line, seseorang dengan smiling depression akan cenderung memiliki risiko yang lebih besar untuk bunuh diri daripada mereka yang menunjukkan depresinya secara terang-terangan. Karena jika seseorang dengan depresi yang ditunjukkan secara jelas, mereka mungkin memiliki keinginan untuk bunuh diri, namun mereka tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Berbeda dengan seseorang dengan smiling depression di mana mereka memiliki kekuatan dan motivasi yang sangat cukup untuk melakukan bunuh diri. [2]
Hal-Hal yang Memicu Smiling Depression
Ada beberapa hal yang dapat memicu seseorang mengidap smiling depression, yaitu: [1]
1. Perubahan Besar dalam Hidup
Seperti halnya jenis depresi lain, depresi tersenyum dapat dipicu oleh suatu situasi, seperti hubungan yang gagal atau kehilangan pekerjaan. Itu juga bisa dialami sebagai keadaan konstan.
2. Pergolakan Batin
Secara budaya, orang mungkin menghadapi dan mengalami depresi secara berbeda, termasuk merasakan lebih banyak gejala somatik (fisik) daripada yang emosional. Dalam beberapa budaya atau keluarga, tingkat stigma yang lebih tinggi juga dapat berdampak. Misalnya, mengekspresikan emosi dapat dilihat sebagai “meminta perhatian” atau menunjukkan kelemahan atau kemalasan.
3. Media Sosial
Di era digital, penggunaan media sosial menjadi hal yang umum. Alih-alih hanya sebagai sarana komunikasi, banyak orang yang menggunakannya untuk memamerkan kehidupan mereka yang baik-baik saja. Sementara hal buruk, disimpan sendiri dan tidak ditunjukkan di media sosial. Secara perlahan, hal ini dapat membuka ruang yang luas untuk tumbuh suburnya smiling depression dalam diri seseorang.
Cara Mengatasi
Melansir dari Psychology Today, untuk mengatasi smiling depression harus berkonsultasi dengan psikiater. Selain itu, cara lainnya ialah dengan memilih satu orang yang sangat dipercaya, baik dari keluarga ataupun sahabat dan cobalah untuk menceritakan masalah dan kondisi yang dialami kepada orang tersebut. [2]
Nah, jika seseorang merasakan tanda-tanda Smiling Depression, Heidi McKenzie, PsyD, seorang psikolog klinis yang berpraktik di Pittsburgh, Pennsylvania, menyarankan untuk mengabaikan segala pikiran tentang rasa malu, menyalahkan, atau rasa bersalah yang terkait dengan fakta bahwa seseorang mengalami depresi. Tidak ada alasan untuk merasa malu mengatakan mengalami depresi dan tiap orang berhak untuk meminta bantuan.
Karen Stewart, M.D., seorang psiseseorang di Permanente Kaiser Permanente di Atlanta, Georgia, pun merekomendasikan untuk segera membuat janji dengan dokter jika seseorang telah merasakan gejala tersebut hampir sepanjang hari selama minimal dua minggu. Penting untuk segera mengetahui jenis depresi apa yang penderita miliki dan menemukan perawatan yang tepat. [4]